[recent]

18 Agustus 2017

10 Kata-Kata Dazai Bagus di Serial Anime Tsuki ga Kirei

Gue mencoba menulis dengan sudut pandang yang berbeda, yaitu dengan sudut pandang film yang pernah gue tonton. Gue termasuk orang yang 'suka' nonton anime. Alasannya? Jawabannya mungkin sama dengan kalian yang suka dengan serial drama korea ataupun film-film Hollywod serta Bollywod. Yup, jawabannya ada pada diri kalian sendiri.

Kebetulan, minggu ini, gue baru aja nonton serial anime yang bisa di kategorikan 'anime favorit', yaitu Tsuki ga Kirei. Anime ini bergenre Romance, School. Dengan alur dramanya yang gue pikir gak terlalu 'lebay'.

Pic Google

Saat gue nonton anime ini, gue merasa tertarik mencatat setiap perkataan si Dazai yang sering di sebut dalam anime ini. Yaa, walau gue gak tau siapa itu Dazai. Apakah dia seorang penulis nyata di Jepang? Atau hanya sebuah nama fiksi belaka? Tapi yang jelas, gue suka dengan kutipan-kutipan Dazai yang selalu di pakai si Azumi (tokoh utama).

Berikut adalah 10 Kata-Kata Dazai Bagus di Serial Anime Tsuki ga Kirei. 

Pic Google

Pertama, “Betapa luar biasa berat dan tak tertahankan untuk hidup."

Gue memahami kalimat ini, bahwa Dazai ingin menyampaikan, betapa beratnya perjuangan hidup di dunia ini. Setiap harinya orang-orang selalu berkompetisi untuk 'bertahan' hidup. Orang-orang akan berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, dan mereka pun khawatir jika sesuatu yang mereka senangi akan di rebut oleh orang lain.

Hidup juga tak pernah lepas dari belajar. Belajar itu memang menyusakan, melelahkan, juga membosankan. Tapi karena kita ingin bersaing dengan orang-orang yang idu di dunia ini, belajar menadi suatu sarana yang tak dapat di hindari.


Bahkan Imam Syafi’i mengatakan: “Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.”

Kedua, “Jika perasaan senang mungkin seperti bintik emas, berkilau sedikit di dasar sungai kesedihan."

Gue rasa, Dazai ingin mengekpresikan, bahwa kesenangan seseorang itu akan membuat dirinya menjadi berkilau, atau lebih sederhananya menjadikan dirinya terlihat lebih baik, walau terdapat banyaknya kesedihan yang menimpa dirinya.

Entahlah sebenarnya gue juga kurang faham lol.

Ketiga, "Seseorang tidak bisa mempengaruhi orang lain tidak juga terpengaruh oleh orang lain."

Dazai mungkin ingin menyampaikan perasaannya, bahwa manusia itu akan berdiri tegak dengan kemauannya sendiri. Tak peduli adanya sosok yang mencoba merubah perasaan orang lain.

Namun hal ini, tidak dibenarkan. Kenyataannya, Azumi merasa dirinya terpengaruhi oleh gadis yang ia suka.

Oleh karena itu, mungkin Dazai berkata demikian karena percaya dengan tekad yang ada pada manusia.

Keempat, "Ditertawai, Ditertawai, dan jadilah kuat."

Saat seseorang berusaha untuk mendapakan apa yang mereka inginkan, tak sedikit yang 'menyapa' dirinya adalah sebuah kegagalan. Dan juga, banyak orang lain yang akan megolok-olok dirinya, sambil mengatakan 'dia tak mungkin berhasil', atau 'dia hanya melakukan sesuatu yang sia-sia' dan lain-lain. Juga perkataan itu terlontar dengan bibir penuh tertawaan yang menunjukkan seuah ejekan.

Tapi, hal itu tidaklah menjadi masala bai mereka yang memiliki tekad yang kuat. Justru hal itu akan membangkitkan semangatnya. Semakin ia ditertawai, aka semakin besar pula semangat dan kerja kerasnya. Hingga akhirnya, ia menjadi sosok yang tangguh dan berhasil.

Azumi sang tokoh utama serial anime ini mengatakan, "Meskipun begitu, bukan berarti aku ingin ditertawai." Hal ini menunjukkan bahwa pada episode ke 2, saat adanya sebuah perlombaan lari di sekolahnya, ia menyadari bahawa dirinya payah dalam berlari, oleh karena itu ia berusaha keras untuk tidak gagal. Walau hasilnya, sudah bisa di tebak, yaitu Azumi gagal dalam berlari, bahkan dirinya sempat terjatuh, namun dengan segera ia bangkit dan melanjutkan untuk berlari.

Kelima, "Satu hal yang manusia miliki, sedangkan makhluk lainnya tidak adalah Kita memiliki rahasia."

Definisi rahasia itu sediri adalah sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain. (KBBI)


Saat membaca kutipan ini, gue menyadari, bahwa manusia itu adalah makhluk yang tidak jujur. Terkadang, seseorang itu menyembunyikan sesuatu agar orang lain tidak merasa tersakiti. Walau pada hakikatnya hati manusia itu tidak bisa berbohong, namun, tak ada yang mengetahui isi hati tersebut kecuali dirinya dan tuhan saja.  

Keenam, "Manusia ada untuk cinta dan untuk revolusi."



Hati nurani manusia tidak akan mengelak bahwa dirinya membutuhkan cinta (kasih sayang). Tanpa cinta, tak akan mungkin ada manusia yang utuh seperti sekarang ini. Semua manusia yang terlahir dari sesosok bayi yang mungil, di rawat dengan penuh cinta oleh orang tua dan lingkungan sekitarnya. Hingga jadilah sosok-sosok yang bervariasi, ada yang menjadi Profesor, ada yang menjadi Fisikawan, Insyinyur dan lain-lain. Mereka tak mungkin ada, jika tak dibesaran dengan 'cinta'.


Sedangkan revolusi adalah sebuah perubahan dalam ketatanegaraan (pemerintahan). Karena manusia adalah makhluk sosial. Manusia saling membutuhkan satu sama lain. Dan hal itu di atur oleh sebuah lembaga yang biasa di sebut pemerintahan, agar semua hubungan manusia dapat teratur dengan baik. Manusia ada, emmang untuk membawa perubahan, seperti sekarang ini. Dunia ters berkembang dengan adanya manusia. 

Ketujuh, "Ada hal seperti cinta di dunia ini. Aku yakin tentang itu. Yang sulit untuk ditemukan dari cinta adalah ekspresi dan etiketnya."

Banyak orang yang mengaku 'cinta' dengan seseorang, namun tak faham bagaimana ekspresi cinta itu yang sebenarnya. Hal ini karena gue sendiri mengalaminya. Dan jujur aja, sampai saat inipun gue belom faham bagimana ekspresi cinta yang sebenarnya itu. Karena antara cinta dan nafsu gue pribadi masih sulit untuk membedakannya.

Kedelapan, “Memutuskan bahwa aku tidak punya harapan bahkan sebelum mencobanya itu tidak lebih dari sebuah kemalasan."

Gue sering mendengar orang-orang mengatakan demikian, "We'll never know the real answer, before you try to Im." (kalo gak salah. -Red), (Kita tidak akan pernah tahu jawaban yang sebenarnya, sebelum Anda mencoba. - Ter).

Banyak pula orang yang khawatir untuk 'mencoba' melakukan sesuatu karena memikirkan resiko yang aka diterimanya. Ingatlah, perkataan Muhammad Ali, dia berkata: "Mereka yang tidak punya keberanian untuk mengambil resiko tidak akan mencapai apapun dalam hidupnya."


Kesembilan, "Aku harus hidup untuk memenuhi janjiku. Hanya itu yang terpenting saat ini."

Dazai ingin menunjukkan bahwa memenuhi janji adalah hal yang harus di utamakan. Bahkan gue pernah membaca salah sau kutipan yang ada pada web online yang gue lupa sumbernya, yang berbunyi: "Anda menjadi mulia saat menepati satu janji, bukan saat mengucapkan seribu janji."



Bahkan Rasulullah SAW sendiri sudah mengtakan, bahwa orang yang ingkar akan jajinya, ia termasuk bagian dari orang-orang yang munafik.

Kesepuluh, "Kebenaran dari sebuah cinta terletak pada tindakan seorang laki-laki yang meneriakan kata-kata cinta dengan putus asa dan melompat ke dalam laut."


Kebenaran cinta seseorang akan teruji saat ia merasa putus asa. Hal ini di gambarkan pada serial anime Tsuki ga Kirei ini pada episode 12, gadis yang disukai Azumi yakni Akane, akan pindah ke kota yang cukup jauh. Begitulah cinta Azumi dan Akane di uji. Bahkan selain itu, banyak persoalan yan dihadapi si Azumi sebelum kepindahan Akane. Yang udah nonton mah pasti tau hehe.

Dan menurut gue, di sini adalah adegan yang paling dramatis yang pernah ada di serial Tsuki ga Kirei ini. Dimana, Azumi berlari dengan sekuat tenaga untuk menuju kereta yang dinaiki Akane untuk pergi menuju kota temat tinggal barunya. Dan dengan perasaan penuh asa, dan penuh tekad, Azumi berteriak ke arah kereta yang sedang melintasinya, "Aku mencintaimu" dengan agak berteriak.

Pic Google
Dramatis banget

Yaa disitulah kekuatan cinta di uji. 

Oke. Cukup sekian tulisan yang gak menarik ini. Karena ini pertama kalinya bagi ge, menuliskan sesatu yang seperti ini. Jadi, maafin aja dah atas banyaknya kekurangan yang ada.

Gue ngantuk, mao bobo. Thanks yang udah mau mampir. Semoga betah mampir dimari.

16 Agustus 2017

Tragedi Kentut

Saat itu, gue masih menduduki bangku sekolah MI di kelas 1. Yaitu, saat-saat dimana semua anak masih sangat jujur alias polos. 

Tepat pada jam 09:00, gue dan kawan-kawan biasa jajan bareng di sebuah kantin kelas yang kecil. Tak ada yang mewah memang, namun terasa hangat karena bisa tertawa bersama dengan tanpa adanya beban.




Bukber plus reuni dengan anak MI
IG @faqihabduh

Di jam istirahat ketika kita ngumpul, ada aja topik pembicaraan yang bagi anak-anak usia 6/7 tahunan itu terasa asik dan seru. Misalnya saat ngomongin film PowerRanger, Ultramen, dan Naruto.

Bahkan gue inget, ada temen gue yang berantem gara-gara mereka sama-sama menyukai salah satu pahlawan di film PowerRangger. 

"Jagoan gue itu Rangger merah." Kata Romo (Nama samaran).
"Apa-apaan lo, gue merah. Tanya aja tuh ke Fadhlur (Salah satu temen gue, tapi ini nama samaran), gue duluan yang merah." Jawab Arul (Nama samaran)

Begitulah kelakuan bocah, dia mengklaim 'duluan' siapa yang berhak menjadi miliknya. Yaa, namanya juga bocah.

Kembali fokus pada cerita awal. 

Singkat cerita, waktu istirahatpun usai. Gue dan kawan-kawan dengan membawa perut yang berisi degan bervarian makan dan minuman, bergegas kembali menuju kelas.

Sesampainya di kelas, gue dan kawan-kawan melihat sesosok anak yang tak asing lagi bagi kelas 1, dia itu Arif (Nama samaran). Gue dan kawan-kawan merasa heran dengan dia, "Ada apa dengan Arif? Kenapa di waktu istirahat ini dia hanya tidur di kelas?" Pikir gue dalam hati.

Tak lama melihat salah satu kawannya tertidur, Romo menghampiri si Arif yang sedang meletakkan kepalanya di atas bangku sekolah dengan posisi miring dan duduk.

"Rif, oi, udah masuk." Romo berusaha membangunkan kawannya dengan lembut.

Tak lama setelah itu, gue dan kawan-kawan yang lainpun, ikut menghampiri si Arif. Dan masing-masing dari kita pun berusaha membangunkan si Arif dengan macam-macam metode. Ada yang dengan lawakan, ada yang dengan menakut-nakuti kalo guru udah dateng, dan lain-lain.

Sampai datanglah waktu dimana, sebuah 'bau' yang khas tecium oleh kita semua.

"Anjrit, siapa yang kentut nih?" Ucapan itu pertama keluar dari mulut si Arul. Orangnya emang suka 'ngoceh' sih.

"Tau nih." Gue cuma menimpali apa adanya.

Beberapa detik telah berlalu, setau gue, yag namanya kentut itu, biasanya baunya cuma beberapa detik aja. Apalagi ini ruang terbuka, tentulah akan semaki cepat hilang baunya.

Tapi, tragedi kali ini sedikit beda. Gue dan kawan-kawan pun merasa kalo ini adalah hal yang 'ganjal'.

Tak ada satupun yang memberikan penjelasan mengenai tragedi ini. Sampai seorang kawan gue yang suka 'mengendus'ngendus' sesuatu, bermama Fikri (Nama samaran) mencoba mengendus 'bau' misteri ini dengan penuh penghayatan. Dia mencoba menganalisisnya.

"Gila! Bau Kentut, tapi kaya bau tai." Keheningan yang sesaat itupun, menjadi pecah dengan penjelasan si Fikri tukang endus. 

"Ada yang cepirit nih." Raka menimpali jawaban Fikri dengan serius.

NB: Cepirit adalah 'ee' atau tai yang keluar degan tidak sengaja Penjelasan simpelnya mungkin begitu.

Hal itupun memicu pada keributan. Kawan-kawan gue pun saling menuduh satu sama lain. Dan masing-masing dari kita pun selalu membela diri masing-masing.

"Elo yang cepirit ye?"

"Bukan gue, lo cium aja nih pantat gue."

Saling tuduh itu terus berlangsung. Bahkan gue pun ikut-ikutan di tuduh. Yaa, gue ini 'dulu' terkenal dengan sosok yang pendiam dan pemalu. Jadi wajar kalo gue diem terus, akhirnya di tuduh cepirit juga.

Di balik kegaduhan yang ada, si tukang endus yaitu Fikri, diam-diam menciumi celana belakang kawan-kawannya. Hingga inti dari pembuat masalahpun ditemukan.

"Woi, Arif yang cepirit." Kata Fikri dengan semangat dan merasa bangga karena berhasil menemukan dalang yang sebenarnya di balik kegaduhan ini.

"Rif, lo cepirit?" Kata Romo sambil sedikit menggoyang-goyangkan tubuh kawannya itu agar terbangun.

Setalah Romo membangunkan kawannya itu yang kedua kalinya, tiba-tiba terdengar suara isakan tangis.

"Si Arif nangis tuh." Kata gue yang menyadari kawan gue yang baik dan pintar itu menangis. Walau gue saat itu gak tau apa alasannya.

Isakan tangis itu semakin lama semakin nyata. Perlahan namun pasti, kini tangisan itu menjadi sebuah pembawa duka yang mendalam bagi Arif. Tangisannya semakin keras, mungkin guru yang ada di kantor sudah mendengar tangisannya.

Gue dan kawan-kawan sekarang faham, alasan kenapa Arif hanya berdiam diri di kelas sambil menidurkan dirinya. Mungkin dia berusaha menyembunyikan zat berwarna coklat itu yang dengan tidak sengaja telah keluar dari tempat asalnya.

Tak lama setelah si Arif nangis, guru kelas 1 tercinta datang dengan tergesa-gesa, dengan wajah penuh khawatir karena melihat seorang murid tercintanya menangis. Sebut saja dia adala Bu Indah (Nama samaran).

"Si Arif kenapa nih?" Tanya Bu Indah sambil memeluk muridnya yang sedang berduka itu.

Gue dan kawan-kawan pun menjelaskan tragedi 'itu'. Agar Bu Indah pun mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Setelah memberi penjelasan yang sebenrnya. Bu Indah membawa Arif yang masih menangis itu ke ruang guru. Mungkin untuk menghibur hatinya yang sedang 'hancur'.

Dan begitulah, kisah gue di waktu MI atau sama dengan SD. 

To be continued

###

Lagi nyoba gaya penulisan cerita dengan kata-kata santai. Seperti gue dan kawanannya. Menurut sobat, lebih enak mana? Gue atau Saya? Alasannya?

13 Agustus 2017

Akankah Malaikat Izrail a.s si Pencabut Nyawa itu Mati?

Pagi ini, karena saya merasa 'kangen' dengan buku yang berjudul Tauidhihul Adillah, yang merupakan sala satu buku favorit saya dalam membahas persoalan keagamaan. Dan saat sedang membaca juz 4, di bagian awal buku, saya terpikirkan untuk menulis ulang isi dari pada materi yang ada di buku itu. Karena saya merasa hal ini sangat bagus guna menambah wawasan orang-orang.

Berikut adalah tulisan 'ulang' yang saya dapatkan dari Taudhihul Adillah karangan K.H. Syafi'i Hadzami

###

Mati menurut ahlussunnah adalah suatu perkara yang wujudi yang dijadikan lagi dapat dilihat. Setiap yang bernyawa tentu akan merasai mati. Karena mati itu termasuk salah satu dari makhluk Allah, maka dengan sendirinya mati itu dijadikan oleh Allah. Dan karena kematian itu adatnya disertai dengan berpisahnya ruh dari pada jasad, maka pada hakikatnya yang memisahkan ruh dari jasad itu adalah Allah swt. Akan tetapi secara majaznya, pencabutan ruh itu ditugaskan Allah swt. kepada Malakul Maut, artinya Malaikat kematian, yaitu Malaikat yang bernama Azrail. Dan Malakul Maut itu banyak mempunyai pembantu dari pada Malaikat-malaikat sebagai staf dari bagian pencabutan nyawa ini.

Pic Google
Gamar ini bukan berarti mewakili wujud dari malaikat Izrail. 
Gambar ini hanya dimaksudkan agar blog terasa lengkap dengan adanya gambar. Oleh karena itu, sebagai mukmin yang bai, janganlah kita meyakini gambar ini adalah bentuk nyata dari malaikat Izrail.

Terkadang mewafatkan itu diisnadkan (disandarkan) kepada Allah swt. seperti firman-Nya dalam Surat Az Zumar 42 sebagai berikut.

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ


Artinya:


Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS Az Zumar 42)

Dan terkadang mewafatkan itu diisnadkan (disandarkan kepada Malakul Maut, seperti firman Allah swt. dalam surat Assajdah 11 sebagai berikut.

قُلْ يَتَوَفَّاكُم مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

Artinya:

Katakanlah: Diwafatkan kamu oleh Malaikat kematian, yang diserahi urusan pencabutan nyawa kamu. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali. (QS As Sajdah 11)

Dan terkadang mewafatkan itu diisnadkan kepada Malaikat-malaikat yang diperbantukan dalam urusan pencabutan nyawa itu, sebagaimana firman Allah swt. dalam Suratul An’am 61 sebagai berikut.

حَتَّىَ إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ …


Artinya:

... sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh Malaikat-malaikat Kami, dan Malaikat-malaikat Kami itu tidak lengah terhadap tugasnya. (QS Al An’am 42)

Jika kita telah memahami bahwa tiap nyawa itu akan merasai kematian jasadnya, maka dengan sendirinya para Malaikat seluruhnya hingga Malaikat Azrail sendiri akan merasakan kematian ini. Demikian pula tentunya Iblis, sebagai bapak dari bangsa Jin ini. Kesemuanya itu tidak ada yang luput dari kematian. Adapun pelaksanaan pencabutan nyawanya, maka boleh saja Allah swt. langsung mencabutnya, ataupun Malakul Maut mencabut nyawanya sendiri. Itu semua hal yang bisa terjadi. Kinin kabarnya diperoleh riwayat bahwa Malakul Maut itu akan mengurus sendiri urusan pencabutan nyawanya dengan segala kehalusan, tetapi dirasakannya kesakitan yang tiada tara bandingnya.

Tersebut dalam suatu riwayat hadis yang panjang sebagaimana tersebut dalam kitab Mukhtashar Tadzkiratul Qurthubi halaman 41, yang telah saya Screeshot dari buku k.H. Syafi'i Hadzami berformat PDF, sebagai berikut:


Artinya:

Apabila makhluk itu telah berkumpul dalam keadaan mati semua, datanglah Malakul Maut kepada Tuhan yang Maha Perkasa, seraya katanya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya telah mati ahli langit dan bumi, kecuali merka yang Engkau kehendaki.” Maka firman Allah swt. Siapa lagi yang masih tinggal, padahal Ia Maha Mengetahui. Maka menjawab Malakul Maut: “Tinggallah Engkau yang Hidup tiada mati, dan tinggallah para pemikul Arasy, dan tinggallah Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan tinggallah pula aku.” Firman Allah azza wajallah. Hendaklah mati Jibril dan Mikail. Dan Allah perkenankan Arasy berkata: “Ya Tuhanku. Telah matilah Jibril dan Mikail.” Maka firman Allah azza wa jalla. “Diamlah engkau. Sesungguhnya Aku telah pastikan kematian atas tiap-tiap yang ada di bawah Arasyku, maka matilah keduanya.” Kemudian datang Malakul Maut kepada Tuhan yang Maha Perkasa, seraya katanya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya telah mati Jibril dan Mikail. Dan tinggal Engkau yang Hidup tiada mati, dan tinggallah pemikul-pemikul Arasy-Mu, dan tinggallah aku.” Maka firman-Nya: “Hendaklah mati pemikul-pemikul Arasy-Ku.” Maka matilah semuanya. Maka Allah azza wa jalla perintahkan Arasy, maka dicabutnya sangkakala dari Israfil kemudian firman-Nya: “Hendaklah mati Israfil.” Maka matilah ia. Kemudian datanglah Malakul Maut seraya katanya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya telah mati pemikul-pemikul Arasy-Mu dan telah mati Israfil, tinggallah aku.” Maka berfirman Allah azza wa jalla kepadanya: Engkau adalah satu dari pada segala makhlukku. Aku jadikan engkai menurut apa yang aku kehendaki. Nah matilah engkau.” Maka matilah Malakul Maut.

Al Faqih
Jakarta Timur, lagi nge-Teh hehe

Refrensi:
- Taudhihul Adillah 100 Masalah Agama Jilid 4

28 Juli 2017

Sekarang, Shalat Jum'at di Haramin!

Sebuah kisah pendek.

Oleh: Al Faqih.

Doni adalah seorang remaja bertubuh gemuk. Dengan tampangnya yang polos nan lucu, dia terlihat sedang menikmati hari-hari libur kuliahnya dengan menyeruput secangkir kopi hangat.


Beberapa menit berlalu. Tak ada yang mengganggu kesenangan milik Doni. Hingga datanglah teman lamanya yang memiliki tubuh yang berlawanan dengan Doni, yaitu bertubuh kurus. Sebut saja dia adalah Ardi.

"Assalamu'alaikum." Ardi menghampiri temannya itu yang terlihat sedang bersantai di atas kursi bambu rumahnya.

"Wa'alaikumsalam, masuk masuk." Sambut Doni dengan tampang gembira karena kedatangan tamu yang tak asing baginya.

Sesaat kemudian, Ardi ikut duduk tepat disebelah Doni. Dan dengan penuh rasa ramah, Doni menyiapkan secangkir kopi hangat di atas meja untuk disuguhkan kepada teman lamanya.

"Ayo, silahkan diminum." Kata Doni.

Tanpa rasa malu, Ardi pun segera menyambutnya dengan wajah senang. 

Tiba-tiba, Ardi terpikirkan sebuah topik untuk dibicarakan dengan teman gemunya itu.

"Don, lo tau gak?" Tanya Ardi dengan wajah seyum dan penuh dengan misteri.

"Apaan? Lo aja belom ngasi topik pembicaraan, udah nanya tau apa nggaknya. Yaa belum tau lah." Begitulah Doni menanggapinya. Dia mudah 'sewot' dengan hal-hal yang berbau ambigu. Walau begitu, Doni adalah orang yang ramah dan mudah memaafkan.

"Hehe, lo tau nggak? Kalo sekarang, shalat jum'at di haramin?" Kali ini, wajah Ardi agak cengengesan (nyengir).

Saat sedang menyeruput kopinya yang sedikit lagi habis, tiba-tiba saja Doni kaget yang hal itu menyebabkan tenggorokannya sedikit sakit, akibat tersedak air. Di tambah lagi, seruputan terakhirnya menjadi terbuang sia-sia.

"Hah?" Doni melihat teman kurusnya dengan wajah penuh heran. "Ngaco aja lo di. Jangan-jangan lo jadi liberal ya? Gara-gara keseringan gaul sama anak kampus." Lanjut Doni, yang kali ini, wajahnya benar-benar memperlihatkan wajah kesal sekaligus heran.

Mendengar jawaban temannya itu, Ardi hanya bisa tertawa terbahak-bahak. 

Melihat reaksinya yang diluar dugaan, Doni semakin heran.

"Kenapa sih lo?" Tanya Doni dengan harapan temannya bisa memberikan jawaban yang dia inginkan.

Doni dan Ardi memanglah teman masa kecil. Sampai sekarangpun mereka berdua masih terus bersama, yakni untuk melanjutkan jenjang pendidikan S1nya di salah satu kapus Negeri Islam ternama di Indonesia.

"Begini sob." Dengan perlahan, Ardi mencoba meredamkan rasa geli pada dirinya. "Hm, coba deh, lo liat hp lo sekarang." Lanjut Ardi, yang jawabannya terlihat semakin misterius.

"Buat apaan?" Doni semakin heran.

"Udah nurut aja." Ardi menyuruh Doni dengan agak memaksa.

Lalu, Doni mengambil ponsel mahalnya yang di letakkan di saku celana kanan. Saat Doni sudah memegang dan menyalakannya, Doni pun kemabi bertanya.

"Terus? Ngapain?"

"Liat de, sekaang tanggal berapa dan hari apa?" Ardi kembali menjawab dengan pertanyaan lagi.

"Tanggal 23 juli 2017, hari minggu." Jawab Doni dengan polosnya.

Ardi kembali tersenyum. Kali ini dengan senyuman yang lebar karena merasa puas.

"Nah, masa shalat jum'at di hari minggu? Yaa haramlah." Saat menjawab, Ardi kembali tertawa terbahak-bahak, karena berhasil mengerjai' teman dekatnya. "Lo udah ngaji berapa tahun sih? Masa shalat jumat di hari minggu? Namanya juga jum'at, yaa di kerjainnya pas hari jum'at lah." 

Doni tercengan untuk sesaat. "Kenapa gue baru sadar ya?" Gumamnya dalam hati.

TAMAT!

Udah gitu aja.

NB: KIsah di atas hanyalah sebuah fiksi belaka. Anggap saja, penulis amatir ini sedang belajar membuat cerita pendek.

23 Juli 2017

Perbedaan Kesalahan Nabi Adam as dengan Kesalahan Iblis

Kedua kisah ini sangatlah populer dikalangan umat muslim, bahkan untuk anak tingkat Madrasapun sudah sering mendengarnya. Namun, tahukah kalian, keduanya, yaitu Nabi Adam as dan Iblis, mereka sama-sama melakukan sebuah dosa (salah), namun nasibnya berbeda.


Apa kesalahan Iblis?

Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam as, sebagimana disebutkan dalam QS. Al Kahf [18] ayat 50:


”Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, Maka mereka pun sujud kecuali iblis. dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? sangat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang yang zalim”

Dan apa kesalahan Nabi Adam as?

Nabi Adam melanggar larangan Allah, yaitu untuk tidak memakan buah khuldi. Sebagimana dikisahka dalam QS. Al Baqarah [2] ayat 35:

dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.

Namun, apa yang menyebabkan keduanya mendapatkan nasib yang berbeda?

Sebgaimana kita ketahui, nabi Adam as diampuni oleh Allah dan dijadikannya sebagai khalifah dimuka bumi. Sedangkan Iblis mendapatkan kutukan dan ancaman kekal dineraka.

Imam ibn Qayyim menjelaskan dalam kitab al Fawaid, bahwa Nabi Adam as melanggar larangan Allah karena dorongan hawa nafsunya. Sedangkan Iblis menolak perintah Allah karena kesombongan. 


Karena kesombongan tidak akan mengakui kesalahan. Iblis merasa lebih mulia dari Nabi Adam as karena kesombongannya. Sedangkan, kesalahan yang dilakukan akibat hawa nafsu, itu karena kelemahan diri seseorang. Oleh karena itu, Allah mengampuni hambanya yang melakukan kesalahan akibat hawa nafsunya, jika ia meminta ampun, (menyesal).

Bahkan imam ibnu Athaillah dalam kitabnya al Hikam, beliau mengatakan:

Kemaksiatan yang melahirkan penyesalan, menumbuhkan rasa hina dina, itu lebih baik daripada melakukan ibadah yang melahirkan rasa sombong. 

Marilah kita hilangkan rasa sombong dalam diri kita, karena pada hakikatnya semuanya adalah milik Allah. Kepunyaan Allah lah apa-apa yang ada dilangit dan di bumi, bahkan ketampanan dan kecantikan kita, juga kekayaan dan tahta, semua hanyalah pinjaman dari Allah. Dan sudah sepantasnya, hanya Allah lah yang boleh sombong.

Refrensi:

- Al Fawaid
- Al Hikam
- Di sarikan dari ceramah Nadirsyah Hosen

Al Faqih
Kebon Nanas

Twitter: @faqih_abduh
Facebook: /faqihabduh
Instagram: @faqihabduh

19 Juli 2017

Tiga Perkara yang Menyelamatkan dari Tiga Perkara

Sebagaimana manusia, tentulah kita tak akan pernah luput dari sebuah kesalahan. Namun, apakah kesalahan itu akan terus menjadi sebuah rutinitas kita sehari-hari, tanpa adanya muhasabah atau intropeksi diri?


Seringkali kita melihat, ada seseorang yang merasa dirinya sempurna. Dia merasa tampan, cantik, kece, cool dan sebagainya. Dan saat melihat orang lain yang berparas kurang baik, berkulit hitam, berhidung besar, memiliki jerawat, ada tahi lalat di wajahnya, itu semua menjadi bahan olokan mereka yang menganggap dirinya sempurna.

Adapula seseorang yang selalu dengki (hasad), tatkala melihat saudaranya mendapatkan suatu kenikmatan yang dia sendiri belum mendapatkannya. Seakan-akan, jika saudaranya gembira, dia akan merasa ‘sakit’ dengan melihatnya. Sebaliknya, jika saudaranya dalam keadaan susah, seakan-akan kegembiraan menyelimuti dirinya.

Juga ada seseorang yang merasa dirinya hebat, gagah, kuat, paling mulia. Namun, dia tidak memikirkan, siapa dirinya itu sebenarnya.

Saat menikmati secangkir teh hangat, saya melihat sebua kitab lama yang saya miliki terhampar di atas lemari, judulnya adalah Futuhul Ghaib, karya Syeck Abdul Qadir al-Jailani.

Bermula karena rasa ‘iseng’, saya memulai membaca kembali lembaran demi lembaran kitab itu. Sampai pada halaman tertentu, saya menemukan sebuah nasihat Syeck Abdul Qadir yang bagi saya, memiliki makna yang beitu dalam.

Nasihat ini sangatlah pas untuk menanggapi tulisan saya yang berada di paragraf pertama hingga keempat.


Dalam kitabnya, Syeck Abdul Qadir mengatakan:

Orang yang mengetahui tiga perkara, akan selamat dari tiga perkara:

  1. Orang yang tahu bahwa Sang Pencipta tak pernah berbuat salah dalam mencipta, niscaya ia akan selamat dari mencela.
  2. Orang yang tahu bahwa Sang Pencipta tidak pernah pilih kasih dalam membagikan rezeki, niscaya ia akan selamat dari iri hati.
  3. Orang yang tahu dari apa Tuhan menciptakannya, niscaya ia akan selamat dari kesombongan.

Subhanallah. Itulah kata-kata yang pas untuk mengiringi nasihat tersebut.

Oleh karena itu, janganlah kita mencela orang lain juga makhluk lain ciptaanNya yang di rasa dalam pandangan kita, terdapat kekurangan pada dirinya. Karena itu semua pada hakikatnya adalah ciptaan Allah. Dan Allah itu Maha Sempurna. Tidak ada satupun ciptaannya yang bernilai cacat. Semua itu mengandung rahasia agungNya.

Dalam melihat suatu kenikmatan, janganlah kita melihatnya hanya dari satu sisi. Rezeki tidak hanya harus berupa harta. Kesehatan, kemudahan, lingkungan yang baik, itu semua juga merupakan rezeki dariNya. Ada seseorang yang kita anggap ‘kaya, namun memiliki penyakit yang serius, sehingga hartanya digunakan hanya untuk berobat. Sedangkan kita? Walaupun harta kita tak sebanyak orang kaa, namun kita masih bisa menikmati harta kita itu untuk memenuhi kebutuhan kita, bisa menikmati hal-hal lain yang bernilai kesenangan dunia.

Yang terakhir, kenapa sombong? Asal kita semua adalah setitis mani yang hina. Baik orang itu adalah Raja, Presiden, Mentri, hingga tukang sampah sekalipun. Di mata Allah tidak ada yang berbeda. Kecuali mereka yang bertakwa kepadaNya. Lagi pula, saat kita terlahir di dunia ini, apakah kita mengenakan pakaian? Tidak! Dan apakah kita bisa makan dan minum dengan sendirinya saat baru lahir? Tidak! Apakah saat kita memasuki usia anak-anak kita bisa masuk sekolah tanpa biaya dan bantuan dari orang lain? Dan apakah saat kita mati nanti, kita bisa memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkan diri kita sendiri tanpa bantuan orang lain? Tidak! Lalu apa yang pantas kita sombongkan?

Sekian tulisan ringan ini. Semoga bermanfaat.

Refrensi: 
Futuhul Ghaib

Al Faqih
Kebon Nanas, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Twitter: @faqih_abduh
Facebook: /faqihabduh
Instagram: @faqihabduh

5 Juli 2017

Permintaan Maaf di Bulan Syawal

Langsung saja pada intinya. Sudah menjadi sebuah tradisi umat Islam, tatkala hari raya yang terkenal dengan sebutan ‘Idul Fithri’ telah datang, umat Islam berbondong-bondong saling meminta maaf. Baik pada orang tua, anak, saudara, tetangga dekat juga jauh, sampai penjual sayuran di pasar, bahkan juga pada seseorang yang baru saja dijumpainya, padahal ia tidak mengenalinya, namun, saling meminta maafpun mereka lakukan.

Saling memaafkan. Yah, terdengar sangat manis. Membuat setiap insan yang saling memaafkan merasa menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk membuka lembaran baru, tanpa ternoda dengan kotoran yang sama seperti lembaran-lembaran sebelumnya.


Beribu-ribu ucapan maaf akan sampai kepada diri kita. Ada yang menyampaikannya secara langsung (lisan. Red), ada juga yang melalui tulisan-tulisannya di media sosial, twitter, facebook, whatsaap, bbm, instagram dan lain sebagainya. Walau banyak hasil tulisan mereka yang hanya copy-paste, namun hal itu sangat kita hormati. Karena isinya adalah meminta maaf.

Pertanyaannya, ‘Apakah permintaan maaf di bulan syawal itu tulus adanya?, apakah permintaan maaf itu hanya menjadi sebuah tradisi yang akan berlalu begitu saja? Tanpa meninggalkan bekas?’

Permintaan maaf dibulan syawal ini, bukan berarti setelah kita saling memaafkan, kita kembali kepada hal-hal buruk yang pernah kita perbuat. Kembali membicarakan keburukan orang lain, kembali berbuat maksiat kepada Allah di tempat sembunyi-sembunyi maupun tidak, berbohong, berbuat zhalim, bertutur kata yang kasar dan sebagainya. Jika masih demikian, dimana makna ‘Idhul Fithri’ itu dalam diri kita?

Alangkah indahnya, jika kita memaafkan setiap kesalahan orang lain yang telah dilakukannya terhadap kita, tanpa menunggu permintaan maaf dari orang salah tersebut. Alangkah indahnya, jika saling memaafkan itu selalu terucap setiap kali melakukan kesalahan dengan orang lain. Bukan hanya dilakukan saat dibulan Syawal saja.

Allah berfirman, yang artinya:
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”  - (QS. Al-A'raf : 199)

Jadikanlah oleh kita, setiap hari itu seperti hari ‘Idhul Fithri’. Terus saling memaafkan, terus saling menasihati dalam kebajikan, terus mencegah dari halhal yang mungkar.

Al Faqih
Kebon Nanas, Jakarta Timur

Twitter: @faqih_abduh
Facebook: /faqihabduh
Instagram: @faqihabduh

13 Mei 2017

Orang-Orang Masjid dan Anak-Anak

Ini adalah sebah catatan terbuka dari saya untuk jamaah masjid juga mushollah.

Sering kali saya melihat, saat ada anak-anak yang gemar sekali mendatangi masjid untuk melaksanakan sholat, khususnya di waktu maghrib, dengan lugu dan merasa tak punya beban, mereka (anak-anak) sangat gemar bercanda dengan kawan sebayanya. 

Kita semua sadar, dalam kehidupan anak-anak yang masih kecil, yang ada dipikiran mereka hanyalah main. Main yang tidak mengenal waktu dan tempat. Diamanapun, mereka bisa bahagia.

Lantas, apakah hal itu menyebabkan kita sebagai orang dewasa membiarkannya? 

Pic: Google

Untuk menjawab itu, kita Kembali ke tema awal.

Tidak sedikit di kalangan orang dewasa, jika melihat anak-anak bercanda di masjid atau mushollah langsung membentak dan memarahinya. Apakah bentakan dan amarah merupakan jalan keluar?

Juga, saat ada anak-anak yang gemar sholawatan di masjid maupun mushollah yang berniat mengisi ‘waktu’ menjelang maghrib, jika bacaannya salah, nadanya tidak beraturan, bercanda, bahkan sampai berebut mic, yang dilakukan orang dewasa hanyalah membentak, memarahi, bahkan ada yang lebih parah, yaitu tidak boleh sholat di masjid atau mushollah itu lagi.

Sebagai orang dewasa, tugas kita adalah membimbing, mengayomi, mencontohkan hal-hal yang baik. Bahkan Nabi SAW adalah orang yang sangat sayang terhadap anak-anak.

Pic: google

Jika anak-anak yang pada awalnya gemar ke masjid atau musholla untuk ‘sholawatan’ saat menjelang magrib, atau hanya untuk sholat saja, lalu mereka melakukan hal-hal yang menyebabkan orang dewasa ‘terganggu’, dan yang kita lakukan hanya membentak dan memarahinya, hal itu bisa membuat mental si anak menjadi ciut. Lalu bisa saja nanti dia tidak ingin lagi sholat di masjid atau mushollah. Bisa saja dia tidak mau sholawatan lagi di masjid atau mushollah tersebut.

Memangnya, para ‘orang tua’ (Umurnya udah tua) yang gemar sekali azan dari waktu shubuh hingga kembali shubuh tidak akan pensiun? Pensiun dalam arti tidak akan sakit, juga wafat?

Ketahuilah, anak-anak adalah bibit Emas. Seharunya kita merawatnya dengan baik sehingga bisa tumbuh dengan baik. Bisa menjadi penerus ‘Oran Tua’ yang gemar ke masjid. untuk azan, sholawatan hingga berjamaah. Agar juga menjadi insan yang taat pada agamanya. Sehingga bisa bermanfaat untuk dirinya, kelauraganya juga orang lain.

Lebih-lebih, saya sangat menyayangkan kelakuan orang dewasa, jika iqomah telah dikumandangkan, dan para jama’ah yang terdiri dari orang-orang dewasa membuat barisan (shaff) yang lurus dan rapat, anak-anak yang sudah siap untuk mengikuti sholat berjamaah dengan orang-orang dewasa, malah diperintahkan untuk tidak berada di shaff depan. Mereka (ana-anak) diperintahkan untuk sholat di bagian shaff paling belakang. Juga perintahan tersebut juga diiringi dengan nada kesal dan kurang suka.

Jika anak-anak yang memang hobinya adalah bercanda, lalu saat sholat berjamaah, semua anak-anak di letakan di bagian shaaf paling belakang, justru mereka akan semakin menjadi-jadi dalam candaannya.

Seharusnya, anak-anak diletakan di sela-sela orang dewasa. Bisa dikatakan, dipisahkan dari temannya agar orang dewasa mengawasinya. Ini lah solusi.

Sebagai orang dewasa, tentulah kita harus lebih pintar dan bijak dari anak kecil. Jangan berpikiran pendek dengan mengandalkan nafsu amarah kita. 

Semoga, dengan tulisan ini, para jama’ah masjid atau mushollah juga ita semua, bisa menjadi peribadi yang dapat mengayomi, membimbing anak-anak. Karena anak-anak adalah generasi terbaik. Mereka adalah bibit yang baik. Bibit emas. Untuk itu, kita harus menjaganya.

Al Faqih

Twitter: @faqih_abduh
Facebook: /faqihabduh
Instagram: @faqihabduh

14 April 2017

Akhlak yang Seharusnya Bagi Diri Remaja

Tulisan ini bukanlah Karya Ilmiah, hanya sebua tulisan biasa yang diharapkan dapat bermanfaat bagi semua orang.

Mengutip dari Zakiah Daradjat dalam bukunya yang berjudul Pembinaan Remaja (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 46, dikatakan bahwa umur remaja adalah sebenarnya umur yang goncang karena pertumbuhan pribadi cepat yang sedang dilaluinya dari berbagai segi, baik jasmani, mental/ pikiran, maupun pribadi dan social. Remaja tidak sabar, sehingga bertindak keras atau kasar dan kadang-kadang melanggar nilai-nilai yang dianut oleh masyarakatnya, disinilah timbulnya kelainan-kelainan kelakuan yang biasa disebut nakal.

Bisa dibilang, masa remaja itu merupakan tahap menuju dewasa. Yang pada saat itu juga seorang remaja akan mengalami hal yang biasa disebut dengan labil. 

Melihat kondisi disekitar kita. Sering kita lihat para remaja menjalin hubungan pertemanan dengan orang sebayanya dengan jalinan pertemana yang erat. Yang hal itu bisa terlihat dengan sukanya berkumpul dengan teman-temannya di tepi jalan. Atau biasa di sebut nongkrong di jalan.

Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali dalam kitabnya yang berjudul Majmu’at Rasail, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Alamiah, 1988 M/1409 H), cet. 1, hlm. 113, menyebutkan bahawa ada adab yang haruslah diperhatikan oleh orang yang duduk di tepi jalan (nogkrong). Yaitu, beliau mengatakan:

"Senantiasa menundukkan pandangan. Membantu orang yang teraniaya dan menolong orang yang meminta pertolongan. Membantu orang lemah dan membimbing orang tersesat. Senantiasa menjawab salam. Memberi kepada peminta-minta dan tidak memalingkan muka kepadanya."

Imam Ghazali melanjutkan, "Senantiasa menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan penuh persahabatan dan keramahan. Jika ada orang yang tetap mengerjakan kemungkaran, cegahlah dengan ancaman dan tindakan keras. Tidak mendengarkan tukang fitnah (as-sa’i) kecuali setelah ada penjelasan. Tidak memata-matai dan tidak berprasangka terhadap orang lain, kecuali hal-hal yang baik."

Dalam berteman, Imam Ghazali juga menyebutkan "Senantiasa menampakkan kegembiraan kepada mereka ketika bertemu. Memulai pertemuan dengan mengucapkan salam. Bersikap ramah, senantiasa memberi kelapangan ketika duduk, dan mengiringinya ketika berdiri. Diam ketika dia berbicara dan membenci perdebatan. Memperbagus ucapan ketika dia bertutur. Tidak memberikan jawaban sebelum dia selesai berbicara. Memanggilnya dengan nama yang paling disukainya."

Jangan sampai kita memanggil teman kita dengan sebutan yang tidak ia sukai. (Hindari!!)

Bagaimana saat kita sedang berkelahi? Atau dalam bahasa keseharian kita disebut dengan berantem.

Umar bin Ahmad Baraja dalam kitabnya Al-Akhlak lil Baniin, (Surabaya: Maktabah Muhammad bin Ahmad Nabhan), hlm. 15, mengatakan, "Maafkanlah saudaramu (saudara kandung atau teman) jika ia bersalah dan tunjukkan kesalahan dengan lemah lembut agar ia tidak berbuat kesalahan sekali lagi. Jauhilah dari banyak bergurau, karena hal itu menyebabkan dendam dan permusuhan."

Bicara mengenai senda gurau, hal ini sangat disukai oleh semua kalangan. Terlebih bersenda gurau dengan orang yang paling dekat dengan kita. Seperti teman sebaya khususnya, tetangga, dan orang yang kita cintai.

Pada asalnya senda gurau itu dibolehkan, namun tidak melampaui batas. Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, sebagaimana di sarikan oleh Zainuddin dalam bukunya yang berjudul Bahaya Lidah, (Jakarta: BUMI AKSARA Jakarta Anggota IKAPI, 1994), cet. 2, hlm. 157, mengatakan:

"Jika senda-gurau itu melampaui batas, maka hal itu dilarang karena akan menyebabkan senantiasa ketawa dan mungkin akan menyebabkan perasaan yang tidak enak dalam hati orang yang tersinggung atau terkena sindirannya.

Nabi SAW bersabda:

اني لأمزح ولا اقول الاّ حقا... رواه الطبرنى و خاطب...

"...Akupun suka juga bersenda-gurau, tetapi aku tidak akan mengucapkan melainkan yang hak...” (HR. Ath-Thabrani dan Khatib).

Ringkasnya ialah, apabila kita bersenda-gurau dan dapat melakukan yang baik-baik serta tidak ada yang kita ucapkan melainkan yang benar, maka itulah yang tidak ada larangan dan tidak berdosa."

Inilah diantara akhlak atau adab yang hars dierhatikan dalam keseharian kita sebagai remaja dalam bergaul. Semoga bermanfaat. Dan jangan lupa dengan secangkir teh hangatnya. ^^

Refrensi:
- Pembinaan Remaja
- Majmu'at Rasail
- Bahaya lidah
- Al-Akhlak lil Baniin

Al Faqih
Kebon Nanas, Mahasiswa UIN jakarta
14-04-2017

Twiiter: @faqih_abduh
Instagram: @faqihabduh
Facebook: /faqihabduh

1 April 2017

Jangan-Jangan Kita yang Munafik?

Kita berteman, bertetangga, juga bergaul degan orang lain. Dan saat kita berkumpul dengan orang yang berbeda latar belakang dengan kita, berbeda pikiran dengan kita, juga berbeda pendapat mengenai suatu masalah, hal itu sering kali menjadi polemik yang mengancam menjadi sebuah permusuhan.

Selain itu, terkadang jika ada rasa tidak menerima dihati, sering kali seseorang itu melontarkan kata-kata kotor, kasar, caci maki bahkan sampai meng-KAFIR-kan, juga memberikan lebel MUNAFIK.

Pic: google

Anak tetangga Al-faqr yang masih kecil, kira-kira baru menduduki bagku 2 MI sudah banyak yang hafal mengenai hadis Nabi yang memang sangat masyhur dikalangan umat muslim. Yaitu:  

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ اِذَاحَدَثَ كَذَبَ وَاِذَا وَعَدَ اَحْلَفَ وَاِذَااؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar dan jika dipercaya ia berkhianat”. (HR. Bukhori)

Tentulah kita sudah memahami maksud dari hadis ini.

Dalam al-Quran pun tak sedikit ayat yang membahas orang-orang munafik juga akibat yang akan diterimanya.

Tahukan kalian arti dari munafik itu sendiri?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, munafik adalah berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak

Bicara munafik lebih dalam lagi. Kemunafikan dibagi menjadi dua, ada yang Akbar (besar) yang berhubungan dengan keyakinan, yaitu: menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman dan pelakunya akan kekal dineraka Jahannam, dan ada yang Sughra (kecil) yaitu menampakkan lahiriah yang baik dan menyembunyikan kebalikannya.

Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Kesimpulannya, kemunafikan asghar semuanya kembali kepada berbedanya seseorang ketika sedang sendiri dan ketika terlihat (bersama) orang lain, sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al-Bashri rahimahullahu.” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 747)

Al-Faqr tidak akan membahas lebih jauh lagi mengenai defini munafik, karena al-Faqr yakin, kalian yang sudah mendalami ilmu agama bertahun-tahun lamanya sudah mengerti dari definisi munafik itu sendiri.

Disini, al-Faqr teringat hadis Nabi SAW yang mengatakan bahwasannya kecirian munafik seseorang itu akan terasa terlihat pada moment tertentu. Yaitu hadis nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).

Dari hadis diatas sudah sngat jelas. Marilah kita meng-intropeksi diri, 'Apakah saat kita melaksanakan shalat Shubuh badan kita merasa keberatan untuk menunaikannya? karena dilanda rasa kantuk yang amat sangat.'

Begitu juga di waku isya. 'Apakah kita merasa lelah dan letih akibat bekerja dari pagi hari hingga malam hari, sehingga kita merasa berat untuk melaksanakan shalat Isya'?'

Sebelum menjudge orang lain dengan lebel munafik, marilah kita renungi bersama. Apakah dalam dirikita terdapat siat-sifat orang munaik? 

Hati seseorang tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan malaikat sekalipun. Haya dirinyalah dan Allah yang mengetahuinya.

Saat kita sering berpikir, atau ber-muhasabah diri, suatu saat kita akan berpikir, 'Jangan-jangan kita yang munafik?'

Al Faqih
Jakarta, 01-April-2017
Kebon Nanas

Refrensi:
- Jami’ul ‘Ulum wal Hikam
- Hadis Bukhari

Facebook: /faqihabduh
Twitter: @faqih_abduh
Instagram: @faqihabduh
Blog: faqihabduh.web.id