Buy Now
[recent]

March 29, 2019

Doa Pilpres (Jokowi vs Prabowo)

Apakah kalian semua sadar, kalau politik tahun ini semakin panas dan menegangkan? Terlebih dengan isu-isu agama yang membuat kesan, kita harus "berjihad" dengan saudara sendiri.

Foto: boleh nemu di google. Izin make yaa :)

Figur ulama pun ikut serta dalam memberikan pengaruh yang besar bagi kedua paslon. Karenanya, gak usah heran lagi sob, kalo hal tersebut menimbulkan "fitnah" terhadap ulama-ulama kita, yang seakan-akan, mereka (para ulama) sedang saling baku hantam dengan caranya sendiri.

Yaa, bukan berarti gue mau meng amini fenomena tersebut. Tapi begitulah keadaan yang gue lihat. Menjelang pilpres, barisan ulama pun di kotak-kotakkan. Dan yang paling menonjol adalah pertarungan antar ulama 212 vs ulama NU. (Bukan berarti selain keduanya tidak ikut andil yaa. Red).

Ini adalah fenomena keadaan yang kita jumpai. Masing-masing pembela capres idamannya juga terus memberikan argumen untuk meyakinkan barisannya adalah barisan yang paling benar, paling membela Islam, paling agamis, paling NKRI, dan lain sebaginya. Hingga, orang-orang seperti kita ini bagai dipaksa untuk ikut perang "dingin" dengan ketidak tahuan kita, yang hal tersebut hanya akan menambahkan keruhnya masalah.

Garis besarnya, orang-orang yang di barisan kubu 01 mengklaim adalah orang-orang baik. Pun begitu juga dengan barisan kubu 02 yang turut mengklaim adalah golongan orang-orang yang baik.

Lalu bagaimana kita menilainya?

Karenanya, kita berharap kepada Allah agar senantiasa di berikan petunjuk dalam mengikuti suatu golongan. Dan do'anya itu adalah sebuah do'a yang amat sangat masyhur di telinga kita, yakni:


اللهم أرنا الحق حقاً، وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلاً، وارزقنا اجتنابه


Maknya: "Ya Allah, nampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya dan nampakkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya"

Itu adalah potongan do'a yang ma'tsur.

Poin yang pertama dari do'a tersebut adalah, saat kita berharap diberikan penampakkan suatu kebenaran yang benar. Berarti, ada kebenaran yang kita anggap benar, ternayata tidak benar. Juga ada yang kita anggap hal tsb adalah suatu kebatilan, ternayata tidak batil.

Karenanya kita berdo'a, Ya Allah, nampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran, dst.

Kedua adalah, saat kita mengetahui kebenaran tersebut, kita berharap dapat mengikuti kebenaran tersebut. Karena amat sangat rugi, bahkan percuma kita mengetahui kebenaran atau kebaikan, tetapi tidak mengikutinya. Makanya dalam lafaz do'a tersebut di iringi "dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya", dan untuk yang batil untuk di jauhi darinya.

Dan sekarang adalah poin utamanya. Yaitu, saat kita berdoa dengan kata arina أرنا (nampakkanlah), hal itu mengandung makna yang luas. Aspeknya tidak hanya satu. Mari kita kaji.

Arina adalah fiil amr, yang berarti perintah. Tapi apakah kita sebagai hamba memerintah Allah yang maha agung? No!, because, perintah yang dari bawahan ke atasan adalah sebua permohonan. Artinya kita berharap, memohon kepada Allah.

Lalu, fiil madhi atau asal kata dari fiil amr lafadz arina adalah roa, bermakna melihat. Lalu melihat di sini itu batasannya apa?

Yuk kita ngaji bareng. 

Gue mengutip dari kitab Al Mufrodat fi Ghorib al-Qur'an, karya Abi al-Qosim al-Huseini bin Muhammad (Ar-Raghib al-Ashfahani), dalam mebahas kata roa رأى , beliau menjelaskan, dalam kata tersebut mengandung 4 makna dalam aspek:

1. Al Hassah (Panca indra, yang bisa masuk akal)
2. Bil wahmi, wa ttakhayyul (Daya hayal)
3. Tafakkur (Fikiran)
4. Aql (Akal)

Jadi, saat kita berdoa memohon diberikkan kenampakkan suatu kebenaran yang memang benar, "Ya Allah, nampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya, dst", do'a tersebut tidak hanya mencakup panca indra saja, tetapi juga daya hayal, fikiran dan akal.

Yang artinya, secara panca indra kita menilai sesorang itu tidak baik (seperti dari video yang viral mengenai keburukan orang lain, dll), hal itu haruslah kita memohon diberikan petunjuk agar penilaian kita baik atau batil tidak lah keliru. karena sesuatu yang kita anggap baik, di hadapan Allah belum tentu baik.

Dari do'a ini juga kita di arahkan agar, berhayal juga condong kepada hal-hal yang baik. Pun begitu dengan fikiran dan akal kita.

Jadi, dalam masalah pilpres ini, dengan banyaknya fitnah yang beredar pada masing-masing paslon (PKI, anti Islam, gak bisa solat, gak pernah jum'atan, dll), yang kesemua itu akan membuat kita menilai, "Jokowi baik ga sih? Prabowo baik gak sih?" yaa kita berharap diberikan petunjuk oleh Allah.

March 2, 2019

Ujian Nahwu Dadakan

Ceritanya, di sebuah pesantren sedang berlangsung pembelajaran nahwu Jurumiyah. Seorang ustadz budjang yang sedang mengajarkan nahwu kepada santri kelas mubtadi (awal atau pemula), tiba-tiba mengadakan ujian praktik dadakan.

Pic by Google

"Sekarang saya mau adakan ujian praktik ilmu nahwu selama 6 bulan kita belajar." Kata ustadz Jaenul si budjang.

"Kan baru kemarin ujian tadz?" protes salah satu santri

"Ini ujiannya bedea. Pokoknya yang gak bisa ada ta'dzir" Imbuh si ustadz tanpa ada rasa kendor sedikitpun.

Para santri hanya terdiam. Di pikirannya sekarang ini adalah harus fokus pada ujian ayang akan diberikan gurunya kepada mereka. karena bayangan-bayangan hukuman seperti membersihkan wc asrama yang banyak, menyapu lapangan, sampai menimba air di sumur, sudah menghantui pikiran para santri. Walau mereka sadar, hukuman itu juga sebagai bentuk khidmat kepada pesantren.

Tak lama, ustadz Jaenul berdiri, dan menuliskan sesuatu di papan tulis. Tulisannya tersebut:

لكل ضيق فرج ولكل فرج مفتاح ومفتاح الفرج الذكر

TANPA HAROKAT SAMA SEKALI!

"Nah, sekarang, saya akan tunjuk siapa yang harus maju. kalo dia bisa, bagus, gk akan saya hukum. Pokoknya setiap orang soalnya beda-beda" Kata si ustad sambil menutup spidolnya.

Santri yang ada di kelas mubtadi itu hanya diam seribu bahasa. mukanya seakan tegang bagaikan orang yang menahan kentut.

"Kalo mau kentut, kentut aja, jangan di tahan." Ledek ustad kepada santri-santrinya.

Karena candaan itu, para santriu tertawa cukup geli. Dan saat suasana sudah membaik, ustad langsung menunjuk seorang santri berambut kriting, berkulit hitam, khas Indonesa banget pokoknya. Namanya Udin, orang ambon yang kece badai.

"Udin!" dengan nada tinggi si ustadz membuat kaget santri-santrinya disela mereka masih tertawa kecil. 

"Na'am tadz?" respon Udin kaget.

"Kamu sini maju"

"Saya tadz?" Tanya Udin tidak percaya. "Mati gue nih." katanya dalam hati.

Ustadz Jaenul hanya menganggukkan kepada sebagai isyarat 'iya' atas pertanyaan si udin. 

Para sabtri lainnya seketika memasang ekspresi bahagia, seakan-akan mereka sedari awal memang mengaharapkan si Udin maju, dengan hasil zonk, alias kena hukuman.

"Kampret, mereka pada seneng lagi." Lirih si Udin.

Dengan ta'dzim, udin maju ke depan kelas, dan mengambil spidol yang telah diberikan ustadz kepada dirinya. 

"Kamu harokatkan plus artikan" Ustad Jaenul memberi arahan sambil memperhatikan gerakan Udin.

Dengan tangan gemetar, Udin menguatkan dirinya. Dan dengan bismillah, perlahan demi perlahan si Udin mulai memberikan harokat pada setiap huruf yang di tulis gurunya di papan tulis.

Selesai memberikan harokat. udin membacakannya sambil memaknai kalimat tersebut.

"likulli dhoyyiqin farjun, setiap yang sempit itu farji. Wa likulli farjin, miftahun, setiap farji ada kuncinya. Wa mifathul farji adzkaru, dan kuncinya farji itu adalah zakar (anu)."

Begitulah Udin memecahkan teka-teki si Ustadz yang malah memancing tawa keras para santri di kelasnya. Dan si Ustad hanya tersenyum geli sambil geleng-geleng.

"Kamu mikir yang jorok-jorok yaa?" Tanya si Ustadz sambil tersenyum

"Anuu, ngk tadz, kan saya hanya jawab persoalan nahwu ini." bantah si Udin karena merasa malu.

Setelah tawa di kelas sudah mulai redup, Ustadz Jaenul berkata:
Maksud saya itu bukan itu. Nih perhatiin ya" ustadz Jaenul menghapus harokat yang sudah diberikan Udin pada tulisanya.

Sambil mengharokati, ustadz Jaeul sembari membacakan dan mengartikan.

"Likulli dhoyyiqin farajun, setiap kesempitan itu ada kelapangan!" Rupanya, ustadz jaenul membacanya dengan kata farajun, kalo si Udin farjun.

"Yang saya maksud itu farajun, bukan farjun." imbuhnya lagi.

Santri lainnya kembali tertawa lagi, bukan tertawa karena jawaban ustad yang benar, tapi tertawa senang atas penderiataan yang akan di terima si Udin.

"Wa likulli farajin, miftahun, setiap kelapangan ada kucninya. Wa miftahul faraji adz zikru, dan kuncinya kalapangan itu yaa zikir." lanjut si Ustad yang masih di iringi gelak tawa santri lainnya.

"Tapi tadz, saya gk salah juga kan?" Tanya Udin ragu-ragu.

"Yaa gak salah juga sih, tapi yang saya maksud itu bukan itu." jawab si Ustad kalem.

"Nah, jadi saya gk dapet hukuman kan? Kan jawaban saya bener juga hehe"  Kata Udin sambil cengengesan.

"Zzzzz, ya udah kamu aman dah." Ustadz Jaenul hanya berupaya objektif, walau dia masih tidak percaya dengan jawaban si Udin.

"Yes!" kata Udin. Dan benar saja, santri lainnya kecewa tidak percaya kalau si Udin akan lolos dari jebakan si Ustad.

"Gue aman, tinggal kalian, hahahaha" Rupanya Udin meledek teman-teman lainnya dengan ketawa jahat ala Anime.

Created: Al Faqih

*Kalo gak lucu abaikan aja sob. Karena point nya itu adalah, belajar ilmu nahwu itu penting untuk bisa memahami pendidikan agama dalam kitab. Yang belajar nahwu aja bisa salah faham akibat salah baca harokat, apalagi orang yang gk pernah belajar nahwu, atau mondok, tapi gk pernah baca kitab bahkan emng gak bisa baca kitab, tapi jadi ustadz atau ulama kondang :v

March 1, 2019

Kita Golongan yang Mana? (Doa Baik vs Doa Jelek)

Dari pada sibuk ikut-ikutan nyebar "slogan" rezim ini anti Islam, komunis, negara thogut dan lain-lain, mending ngaji.

Nah sore ini gue mau nge-share ke kalian mengenai ilmu yang gue dapet saat ngaji online di grup whatsapp, dengan Kyai Lutfi Ubaidillah. Di dalam grup tersebut sebenarnya banyak kyai-kyai yang saling ngisi satu sama lain, ada Kyai Dr. Lukman Hakin, ada Kyai Dr. Amad Sodiq, ada juga Kyai Ahmad Rusdi dan masih banyak lagi.

Pic by Google

Jadi pembahasannya kali ini adalah mengenai doa untuk pemimpin.

Kerap kita sebagai rakyat, tentu tidak semua suka dengan pemimpin negeri kita sendiri. Faktor nya cukup banyak yang membuat kita tidak suka dengan satu rezim penguasa, baik karena faktor kinerjanya yang buruk, atau karena terlalu fanatik buta dengan "jagoan"nya yang kalah saat pilpres, sehingga apapun yang dilakukan rezim ini dimatanya adalah sebuah kejelekan.

Lantas, sebagai rakyat, tentulah kita juga memiliki kewajiban terhadap pemimpin kita, salah satunya mendoakannya.

Awal mula pengajian ini di buka oleh Kyai Ahmad Rusdi yang membuka tema dari salah seorang ulama ternama yaitu Imam Abu Muhammad al Barbahari. Beliau berkata:

 إذا رأيتَ الرَّجلَ يدعوا على السلطان، فاعلم أنه صاحب هوى، وإذا رأيتَ الرجلَ يدعو للسلطان بالصلاح، فاعلم أنه صاحبُ سُنَّةٍ.

"Jika engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan untuk penguasa, maka ketahuilah bahwa ia pengikut hawa nafsu, dan jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan untuk penguasa, maka ketahuilah bahwa ia mengikuti sunnah".

Selanjutnya beliau mengutip perkataan Imam Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah:

لو أني أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان

“Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki doa yang mustajab (yang dikabulkan), maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”

Beliau (kyai Ahmad Rusdi) menjelaskan:

Karena, kebaikan penguasa berpengaruh terhadap kebaikan rakyat dan negara. sedangkan doa untuk pribadi, pengaruhnya hanya untuk dirinya. 

Hal tersebut beliau kutip dari kitab Syarh as Sunnah, Imam al Barbahaari, hal 116-117 (Afifudin Dimyati)

Barulah Kyai Lutfi Ubaidillah menambahkan:

"Mendoakan kebaikan pada orang yang tidak disukai adalah perkara berat. Seberat seorang mukmin pergi berjihad dengan mengangkat senjata dalam rangka membela kebenaran. Karena itu Allah sangat cepat mengabulkan doa-doa orang yang mendoakan orang lain dibandingkan doa2 orang yang mendoakan dirinya sendiri. Dan ketika seseorang mendoakan kebaikan pada orang lain para malaikat langit dan bumi akan meng-aminkan dan mendoakan orang yg berdoa tersebut sesuai dengan doa yang dipanjatkan:"ya Allah berilah dia seperti apa yang didoakannya pada si Fulan..si Fulan...si Fulan..." - dalam WA nya.

Yang bahaya adalah ketika seseorang mendoakan keburukan bagi orang lain. Maka para malaikat langit dan bumi tidak mengaminkan,melainkan mereka berdoa bagi orang tersebut dengan mengatakan: "Ya Allah berilah ia sesuatu seperti yang ia doakan bagi si Fulan.. si Fulan... si Fulan..." - lebih lanjut beliau (kyai Lutfi) menjelaskannya.

Kualitas penguasa atau pemimpin juga di tentukan kualitas rakyatnya. Teringat dengan kitab Asshulthan, di dalamnya terdapat perkataan seorang sahabat nabi bernama Abdul Malik bin Marwan yang mengatakan:

"Lo semua kepengen nuntut punya pemimpin seperti kualitas Abu bakar dan Umar. Nah, tapi ente bisa gak, jadi rakyat, seperti rakyatnya Abu Bakar dan Umar?"

Hehe sengaja make arti bahasa sehari-hari, biar gak kaku. (bisa di lihat hal 9).

Yuk, doakan pemimpin kita agar senantiasa di berikan taufiq dan hidayah oleh Allah. Siapapun pemimpin itu, jika salah kita nasihatkan, kita doakan. Bukan malah kita makin hina dan caci-caci, nanti gak akan baik-baik.

Salah satu bentuk berdoa yang baik dan berakhlak, di contohkan oleh Kyai Lutfi Ubaidillah:

"Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa. Hanya kepadaMu aku memohon. Aku menginginkan A, dan aku berharap doaku Engkau Ijabah. Tetapi jika Engkau justru memberiku B, aku pun rido.Karena apa yang Engkau kehendaki adalah kebaikan untukku.Maka berilah aku hati yang rido atas apa yang Engkau kehendaki."

Doain pemimpin saat ini, jangan adopsi doa badar yaa hehehe. Kita lagi mau menghadapi pesta demokrasi, bukan perang. Nuhun.

BTW, sekarang posisi kita dimana? suka ngedoain pemimpin yang baik? atau jelek?

Yaa bukan cuma buat pemimpin aja sih, tapi buat semua orang juga sama. makanya doain gue yee, kan ngedoain orang lain doanya lebih cepet mustajab ketimbang berdoa untuk diri sendiri.

February 26, 2019

Serpihan Takwa

Sejak dulu kala, kita sudah terbiasa mendengar pembicaraan mengenai "takwa" yang senantiasa selalu dihimbau untuk diri kita. Di madrasah, musolla, majlis ta'lim, bahkan sekolah formal kita sendiri, tak jaran berpesan kepada kita agar senantiasa bertakwa kepada-Nya.

Bye Google

Mengenai definisi takwa itu sendiri, bukanlah sesuatu yang "asing" dalam pemahaman kita. Semua umat Islam gue kira hafal betul makna takwa yang kerap selalu disampaikan oleh khatib-khatib jum'at di atas mimbarnya, yakni:

Imtitsalu awamirillah wajtinabu nawahihi

Yaitu mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya

Dalam pandangan Al-Qur'an dan Hadis pun banyak yang menyinggung persoalan takwa. Dan definisi takwa di atas adalah definisi takwa secara bahasa. Dan dari sini, sebuah pertanyaan muncul, "memangnya bentuk takwa itu apa sih?"

Sekilas, cukup banyak di antara kita yang menyangka, takwa itu bentuknya adalah salat, puasa, zakat, haji, yang berupa daripada ibadah-ibadah. Apakah hanya sebatas itu?

Biar nasihat ini diterima banyak kalangan, gue mengutip pesan Syaikh Muhammad Syakir dalam kitabnya yang berjudul Washaya Al Aba lil Abna, yang isinya:

"Hai Anakku, takutlah kamu apabila kamu mengira bahwa takwa kepada Allah itu hanya salat, puasa dan ibadah lainnya. Sesungguhnya takwa kepada Allah itu mencakup dalam segala hal. Takutlah kamu dalam ibadah kepada Tuhanmu dan janganlah kamu lalai. Bertakwalah kepada Allah, jangan menyakiti seorang pun di antara teman-temanmu. Bertakwalah kepada Allah di negaramu, janganlah kamu mengkhianati dan mencari-cari musuh. Takwalah kamu kepada ALlah terhadap dirimu, jangan kamu abaikan kesehatanmu dan janganlah kamu berakhlak kecuali dengan akhlak yang mulia."

Yups, bisa dikatakan, aspek takwa itu tidak hanya menyinggung ibadah individual, tapi juga mencakup hal-hal yang berhubungan dengan sosial. Dari nasihat ini bisa kita singgung, bahwa takwa pada era milenial sekarang ini semakin banyak aspek takwa yang musti kita perhatikan.

Bagaimana kita memanfaatkan skill dan hobi kita agar tidak keluar dari "orbit" takwa. Bermusik, bernyanyi, ber-akting, bermedsos, dan sebagainya harus kita memperhatikan norma'norma yang telah di ajarkan oleh baginda Nabi saw. 

Berpuisi untuk menghina, bermusik untuk memprovokasi, bermedsos untuk menyebar fitnah dan lain2, telah banyak kita jumpai sekarang ini. Terlebih sekarang bercampur baur dengan bumbu-bumbu politik yang sangat sesitif.

Kalau kita punya banyak salah dan dosa hanya kepada Allah, taubtanya in sy Allah mudah. Allah maha pengampun, lagi maha penyayang. Di tambah lagi di dukung oleh hadis-hadis nabi mengenai suatu amalan-amalan (seperti dalam ibadah haji), yang Allah menjanjikan kepada kita, akan menghapuskan segala kesalahan dan dosa kita selama apa yang kita kerjakan di dunia, tapi bukan dosa yang berhubungan dengan orang lain.

Nah, seandainya, kita menyakiti orang lain, lalu kita bertaubat kepada Allah, seedangkan si orang yan pernah kita sakiti masih belum memaafkan kita, apakah ada jaminan Allah akan menerima taubat kita?

lalu bagaimana dengan kita menyakiti, memfitnah, menggunjing orang lain yang kita belum kenal betul orang tersebut. Di tambah lagi, orang yang kita sakiti, kita fitnah, kita gunjing adalah orang-orang "penting" sehingga amat sulit kita bertemu dengannya. 

Lalu bagaimana kita meminta maaf kepadanya? apakah ada jaminan kita memiliki kesempatan bisa bertemu dan meminta maaf secara langsung?

Kini, serpihan takwa tersebut seperti terseret ombak yang kecil. Perlahan namun pasti, serpihan itu seperti terus menghilang dari permukaan.

February 17, 2019

Gak Malu Sama Iblis?

Apa karena efek dari suhu politik yang makin panas, setiap orang sekarang merasa dirinya yang paling benar. Terebih dengan dalih "bela agama", yang seolah-olah menunjukkan "kaum" mereka lebih agamis, lebih sholeh, lebih lurus, lebih 'alim dari "kaum" lainya.

Agama memang nomor satu baih mereka yang beriman. Tapi untuk konteks sekarang ini, kita yang berbeda dalam pilihan poitik seakan-akan beda aqidah, beda Tuhan, beda Nabi, beda pedoman (Al-Qur'an).

Pic Google

Semua hal yang berhubugan dengan politik di masukkan dalam ranah hal aqidah, yang seakan politik itu sudah masuk dalam hal rukun Iman yang pokok. Dari situ, gak heran kita mudah menjumpai judge seseorang dengan label "kafir", "munafik", "penista" dll bagi mereka yang tidak sejalan dalam pandangan politik.

Tugas kita itu adalah membenahi diri untuk menjadi yyang lebih baik. Merasa sudah baik? Yaa harus terus menjadi lebih dan lebih baik lagi.

Dalam surah Al Fatihah yaitu surah yang disebut dengan Sabu'ul Matsani, karena terus di ulang-ulang setiap kali kita shalat, terdapat pelajaran penting yang bisa kita ambil dari ayat ke-6 yang bunyinya:

Ihdinas siratal mustaqim

Terjemah: "Tunjukilah kami jalan yang lurus"

Apa maksudnya? Bukankah Nabi Muhammad saw. Sudah di bimbing oleh Allah dalam jalan yang benar? yakni Islam.

Ayat ini juga di fahami dengan senantiasa menunjukkan agar kita terus menerus menjadi insan yang senantiasa berusaha untuk menjadi pribadi yang baik, yang mencari kebenaran terus menerus. Karena sejtinya, yang mengetahui benar atau salah itu hanyalah Allah swt.

Dalam pemahaman Al-Qur'an dan Hadis, para ulama-ulama kita tidak sedikit berbeda dalam memahami suatu konteks ayat atau hadis, bahkan terbentuknya mazhab-mazhab itu juga dipicu karena berbedanya ulama dalam memahami suatu masalah. 

Yang perlu kita sadari, permasalahan-permasalahan baru yang terus muncul itulah yang membuat lahirnya perbedaan di kalangan ulama. JIka seandainya, masih ada Nabi sampai saat ini, tentulah perbedaan itu tidak ada. KArena NAbi saw. adalah orang yang mendapatkan bimbingan langsung dari sang maha pemliki kebenaran. Kalau ada suatu masalah, langsung di tanya ke Nabi, di jawab, selesai deh.

Shirot di artikan sebagai jalan yang lebar dan luas. Artinya dalam memohon untuk di bimbing dalam jalan yang lurus, bisa melalui dengan berbagai macam cara yang beragam macamnya.

Itulah perbedaan. Walau banyak perbedaan, namun misi utama kita sama, yaitu Allah.

Dalam aspek  politik, tentulah kita memperjuangkan segala yang terbaik untuk negeri tercinta kita ini, Indonesia. Bahkan dari pihak pertahana maupun oposisi akan berjuang keras memberikan yang terbaik untuk negerinya.

Ayolah, kita sama-sama bergandengan untuk membangun negeri kita agar lebih baik. Ikhtilaf yang sekarnag ini marak terjadi akibat perbedaan pandangan suatu masalah kerap menjadi sebuah fitnah untuk kalangan kita sendiri. Membuat kita menjadi pribadi yang mudah marah, mudah tersiggung, tidak menghargai pebedaan dan masih banyak lagi.

Sekali lagi, hakikat kebenaran itu hanya ALlah yang tahu. Dalam Asmaul Husna, ALlah juga di sebut dengan nama 'Alim, maha mengetahui.

Tugas kita terus mencari tau. Jangn sampai kita merasa sok tau. Apalagi merasa paling tau. 

Bukankah Iblis adalah makhluk yang sangat 'alim? Paling mengerti tentang kebenaran? Bukankah Iblis juga makhluk yang paling dekat dengan Allah pada zaman dulu? Lalu mengapa ia di laknat?

Penyakitnya hanya satu, yaitu "Saya lebih baik dari dia Adam a.s)"

Jadi, gak malu sama Iblis nih? Ilmunya Iblis mengalahakan ilmunya para cendekiawan, profesor maupun para ahli. 

Yuk, jadikan perbedaan sebagai rahmat. 

January 31, 2019

Taman Bunga Nusantara: Pelajaran dari Sebuah Bunga

Ini adalah cerita lama. Kira-kira pertengahan tahun 2018 gue dan teman-teman berlibur ke puncak dan mampir ke Taman Bunga Nusantara. 

Ada banyak macam bunga yang amat bervarian. Bahkan jenis bunga dari luar negeri pun ada.

Taman Bunga Nusantara ini ada di daerah kawasan bogor. Alamat: Jl. Mariwati No.KM, 7, Kawungluwuk, Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 43254.

Foto bye Google
Foto gue terlalu jelek :v

Harga tiket: - 40.000,00

Tapi belum sama parkir, dan wahana tambahan lainnya.

Ini adalah foto 1 tahun yang lalu
IG: faqihabduh

Saat gue ada di taman ini, gue merasa ini adalah perwakilan kecil dari wujud indahnya Indonesia. Gue bersyukur menjadi bagian dari negeri ini. Banyak keindahan bahkan kekayaan negeri kita yang negeri lain tidak ada.

Karenanya, gue merasa yakin kalu ini adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah ke kita. Indonesia adalah rumah yang indah, nyaman, aman, dan damai.

Berapa banyak orang yang mengidam-idamkan negerinya seperti Indonesia ini?

Oh iya, di Taman Bunga Nusantara ini juga ada labirin, ada juga model rumah tradisional bali, sampai ala-ala kejepangan.

Saat di jepang :v

Saat di bali :v

Bunga itu bisa kita katakan sebagai simbol keindahan. Simbol kasih sayang, atau bahkan cinta.

Berapa banyak dari kita yang suka bunga lalu memetiknya?

Bukankah saat kita memetik bunga, hal itu akan membuat bunga menjadi layu dan mati?

Berbeda dengan kita jika mencintai bunga. Niscaya kita akan menyiraminya setiap hari.

So, itulah bedanya suka dengan cinta.

Well, cinta itu menjaga bukan merusak.

Nasihat ini gue dapetin dari seorang tokoh yang bernama Charlie Chaplin. Ajib kan?

Itulah, tulisa singkat di siang bolong. Semoga bermanfaat dan bisa istqomah. See you

Berikut adalah vidoe pendek nya. Maafin kalo jelek :v


January 26, 2019

Dilema Mahasiswa Semester Akhir

Saat berada di penghujung perkuliahan akhir, atau saat di semester akhir, tentu ada rasa senang yang  meledak-ledak dalam diri kita. 

Senang, karena membayangkan tugas-tugas yang membosankan akan segera kita tinggalkan menuju kehidupan baru yang kita berharap dapat membuat hidup kita berwarna.

Foto hanya pelengkap. IG: @faqihabduh

Nah, disaat gue membayangkan akan segera membuka lembaran baru dalam hidup ini, dan akan banyak hal-hal indah yang bisa gue lakuin, bayangan itu seketika musnah oleh realita-realita yang ada.

Yup, gue sadar, kalo tantangan setelah kuliah itu ternyata lebih berat. Di setiap harinya, gue merasa takut dengan masa depan gue yang suram. TErbayang nanti harus mencari uang untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga Di tambah lagi permasalahan percintaan :v. Belum lagi tantangan-tantangan di era milenial ini yang setiap kita harus memiliki skill tambahan lainnya (bukan hanya pada bidang akademik).

So, saat lo ada di semester tigkat akhir, pilihan utama lo biasanya cuma:

1. Apakah langsung bekerja?
2. Apakah langsung nikah aja?
3. Atau S2 dulu?
4. Hmm, 

Gue ini adalah mahasiswa jurusan pendidikan yang memang di perisiapkan untuk menjadi guru di masa yang akan datang. Tapi apakah gue benar-benar berkeinginan menjadi guru?

Secara global, gue sih mau-mau aja. Lalu permasalahan yang mengahantui gue selanjutnya adalah, apakah nanti dengan gajian di sekolah, keikhlasan mengajar gue bisa menghilang? Maksudnya, nanti gue bakalan ngajar dengan dalih "Yang penting dapet gaji", dengan tidak memikirkan perkembangan anak didik.

Jujur aja, selama kuliah, gue juga punya kerja sampingan sebagai pengajar. Baik mengajar privat maupun di yayasan dan pengajian di dekat rumah.

Selama gue melakukan sampingan tersebut di samping rutinitas kampus gue, hal tersebut membuat gue ingin mendapatkan penghasilan dari sumber yang lain.

Gue gak mau, hanya karena gaji, keikhlasan itu menghilang. Oleh karenanya, gue mau mengembangkan apa yang menjadi hobi gue.

Well, untuk saat ini, yang terbayang dalam benak gue adalah, kuliah harus tetap lanjut (S2), mengajar juga perlu, dan mengembangkan hobi tidak ada salahnya. Urusa percintaan? Itu mah privasi aja haha.

Walau, sejujurnya, ada tantangan tambahan bagi mahasiswa tingkat akhir, yaitu "Lo kapan nikah?" 

Hal tersebut seakan menjadi perlombaan siapa yang cepat menikah dia pemenangnya. :v

Mungkin itu aja tulisan di pagi hari ini. Awali pagi kita dengan senyuman dan secangkir teh hangat. Hari baru, mulailah dengan hidup yang baru.

September 19, 2018

Saat Nafsu Menghantui Kita

Bicara soal hidup, gak jarang terlitas dalam benak kita untuk bisa meraih kesuksesan. Tapi, usaha yang kita kerjakan tak sepadan dengan kesuksean yang kita mau.

Geu pribadi begitu sob. Gue mau jadi orang besar, orang yang bisa di katakan "berhasil". Tapi, perjuangan gue itu bagaikan sebuah cangkang yang kosong. Maksudnya, gue masih suka males-malesan, gue masih suka ngelakuin hal-hal yang gak ada manfaatnya, gue masih suka menuruti segala jenis keinginan "nafsu" jiwa gue yang harusnya gak semuanya bisa kita turuti, melainkan ada hal-hal yang mustinya kita lawan atau tahan. 

Pict Google
Ceritanya si empus lagi males, hehe

Hematnya, saat kita mau meraih kesuksesan, banyak dari kita yang mau menempuh dengan cara instan. Gak mau capek, gak mau susah. Pokoknya segala keinginan kita bisa terpenuhi. Itulah nafsu kita.

Dan yang harus kita sadari, di dunia ini gak ada yang instan sob. Mie instan aja kudu di rebus dulu.

Gue pernah di nasehati leh salah satu guru gue, Habib Muhammad Alydrus. Beliau pernah ngomong begini:

"Ente-ente (kamu-kamu, red.) nih, kalo nurutin males, gak akan ada habisnya. Lawan! Syetan tuh makin seneng kalo kita males."

Begitulah kurang lebih ucapannya saat menasehati gue dan kawan-kawan sewaktu di pondok, Bogor.

Gue akan mengutip syair indah dari Qasidah Burdah karya Al-Imam Abdillah Al-Bushiry, yaitu: 


وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ
Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap suka menyusu. Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ ۞ إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ
Maka palingkanlah nafsumu, takutlah jangan sampai ia menguasai-nya. Sesungguhnya nafsu, jikalau berkuasa maka akan membunuhmu dan membuatmu tercela

وَرَاعِهَا وَهْيَ فِيْ الأَعْمَالِ سَآئِمَةٌ ۞ وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلاَتُسِمِ
Dan gembalakanlah nafsu, karena dalam amal nafsu bagaikan hewan ternak. Jika nafsu merasa nyaman dalam kebaikan, maka tetap jaga dan jangan kau lengah

كَمْ حَسّنَتْ لَذّةً لِلْمَـــــــرْءِ قَاتِلَةً ۞ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنّ السَّمَّ فِي الدَّسَمِ
Betapa banyak kelezatan, justru bagi seseorang membawa kematian. Karena tanpa diketahui, adanya racun tersimpan dalam makanan

So, saat kita selalu nurutin nafsu kita, kaya males, masih suka foya-foya, maunya main-main terus, gak giat belajar dan masih banyak yang lainnya. Semua itu harus kita lawan. Jangan sampai kita terjerumus dengan nikmatnya nafsu-nafsu kita sendiri, yang pada akirnya bisa menghancurkan kita juga.

Inilah tulisan singkat gue. Semoga gak akan vakum lagi hehe

Kuy, ngopi

Edisi kangen nge-blog :D

April 2, 2018

Review Buku Pintar Bahasa Arab Al-Qur'an

Ini adalah review buku perdana gue di blog ini. Semoga dengan review ini, bisa membantu kawan-kawan mengenali suautu buku sebelum membacanya.

IG: faqihabduh

Jadi ceritanya itu, saat pulang ngampus pukul 03:10 sore, dan setelah salat asar, gue memutuskan untuk ke toko buku terdekat dari kampus, untuk membeli buku Metodologi Penelitian yang lagi gue galauin sampai sekarang hehe.

Singkat cerita, saat di toko buku, gue gak sengaja melihat buku ini. Dan gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Terlebih pengarangnya adalah dosen gue sendiri sewaktu gue smester 3. Beliau mengajar matkul "Islam dan Ilmu Pengetahuan". 

Dan dari situ gue sadar akan satu hal. Kalau dosen gue yang satu ini ilmunya sedikit keluar, kecuali kalo di tanya mahasiswanya. Apalagi kalo di tanya mengenai tafsir. Beh mantap!

Berikut sedikit informasi mengenai buku yang akan gue review.

Judul: Pintar Bahasa Arab Al-Qur'an

Penulis: Prof. Dr. H. Salman Harun

Penerbit: Lentera Hati

Tahun Terbit: 2018 cetakan ke-VI

Jumlah Halaman: 480

Harga: 120.000

Desain

Cover buku menurut gue terbilang minimalis, namun sejuk di pandang. Intinya terbilang baik.

Dimensi

Buku ini terbilang cukup tebal. Tapi masih terbilang standar jika di bandingkan buku bacaan lain pada umumnya. Walau begitu bobotnya masih terbilang ringan. Belum cukup berat buat ngebentuk otot tangan, hehe.

Konten

Nah ini point utamanya. Buku ini menjelaskan cara memahami Al-Qur'an dari aspek kebahasaan sesuai kaidahnya. (Segi Nahwu dan Sharaf).

Penjelasannya terbilang simpel dan singkat. Menurut gue, buku ini bisa jadi terasa agak sulit di pahami oleh orang yang benar-benar 'awam' akan bahasa arab.

Sebaliknya, akan sangat membantu orang-orang yang suda memiliki landasan pemahaman bahasa arab, seperti sudah memahami kitab Jurmiah. Tentulah buku ini akan sangat mudah di garap.

Jadi, bisa di katakan, untuk belajar secara otodidak bagi seseorang yang belom punya dasar kaidah bahasa arab, akan terasa kesulitan. (mugkin). Dan gue pribadi, gak menyarankan untuk membacanya sendiri, kecuali jika ada kawan atau guru yang membantu.

Buku ini juga terbilang 'lengkap' dalam menjelaskan kaidah bahasa ara Al-Qur'an. Mulai dari pembahasan Mubtada Khabar (muzakkar dan muannts), Dhamir, Isim Isyarah (beserta variannya), Lafadz Jama', Huruf (Jer, Qasam dll), Fiil Madhi Mudhari Amr, Hal, Idhofah, dan masih banyak yang lainnya.

Untuk belajar bahasa arab Al-QUr'an dari buku ini, hanya ada empat point utama yang musti kita lakukan, yaitu membaca contoh-contoh ayat AL-Quran sesuai tema yang akan di bahas, selajutnya memahami ayat yang telah di baca (dalam buku sudah di temapilkan ayat dan terjemahannya), ketiga adalah mengetahui tata bahasanya (di sertai penjelasan yang simpel), dan yang terkahir adalah pemantapan. Yakni berupa soal-soal yang telah di sediakan di dalam buku. Artinya, setiap kita belajar dari satu tema buku ini, kita di pastikan harus benar-benar menguasainya terlebih dahulu sebelu beranjak naik ke tema selanjutnya.

END

Itulah review buku singkat perdana gue. Semoga ada manfaatnya. Karena amat sangat enting agi kita kaum muslimin memahami bahasa AL-Qur'an. Karena Al-QUr'an adalah pedoman kehidupan. 

NB: DI foto, tangan gue terlihat agak item. BTW itu emang belang, gara-gara naik motor ke kampus gk pernah make sarung tagan hehe.

March 4, 2018

Tips Updet Status (Medsos) ala Imam Asy Syafi'i

Omongan seseorang di medsos sekarang udah makin parah. Cacian makian sudah sangat mudah di jumpai. Tak ada etika dan adab yang di perhatikan. Sekilas, ocehannya di medi sosial menghilangkan nilai utama dari ajaran Islam, yaitu ber-akhlak yang baik.

Pic Google

Perkataan yang merendahkan seseorang, seperti g*blok, t*lol, dan kata-kata kasar lainnya seperti b*bi, anj*ng dan m*nyet, sudah amat biasa di jumpai pengguna medsos. Apapaun itu (Fb, Twitter dll).

Mirisnya lagi, seseorang yang di caci maki adalah orang yang lebih tua, para guru, ustadz, kyai, dan tokoh-tokoh penting.

Yaa, karena itu, gue mau berbagi nasihat sedikit, sebagaimana gue dapatkan dari buku Tafsir Al-QUran di Medsos kaya Prof. Nadirsyah Hosen, yang mana beliau mengutip perkataan Imam Asy SYafi'i sebagaimana tertulis pada kitab Al-Mustashraf fi Kulli Fannin Mustazhraf, yaitu:

إذا أراد أحدكم الكلام فعليه أن يفكر في كلامه
Kalo mau ngomong, pikirin dulu (baik di medsos atau di depan publik)


فإن ظهرت المصلحة تكلم 
Kalo omongan lo ada mashlahatnya, ya udah, ngomong deh


وإن شك لم يتكلم حتى تظهر
Kalo ragu, yaa jangan ngomong, samapai jelas maslahatnya

Begitulah Imam Syafii mengajari kita, supaya tehindar dari mem-bully seseorang.

Dan tambahan dari gue, coba kita liat sejarah, sebagimana tertulis di kitab Al-Risalah Qusyairiyah halaman 122, yang menceritakan, kalau Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq selama setahun menaruh di mulutnya sebuah batu, agar beliau sedikit berbicara.

SUbhanallah, begitulah akhlak orang soleh. Yang sadar akan bahayanya lisan. Terlebih di era sekarang ini, bukan hanya lisan di dunia nyata saja yang perlu di perhatikan, akan tetapi lisan di medsos pun sudah menjadi prioritas utama juga.

Wallahu 'alam

Refrensi:

- Tafsir Al Quran di Medsos
- Al-Risalah Qusyairiyah