Buy Now

September 15, 2017

Kita Semua Mencintai Fitnah

Kita semua faham, bahwa fitnah itu di tunjukkan untuk seseuatu yang tidak baik. Dari segi pengertian, fitnah itu berbeda-beda. Namun intinya tetap sama, yaitu sesuatu yang jelek.

Sebagai contoh kecil, dalam KBBI fitnah itu adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). Sedangkan dalam kitab Maqayisul Lughah di paparkan:


“الفاء والتاء والنون أصل صحيح يدل على الابتلاء والاختبار” 

“Huruf Fa`, Ta`, dan Nun adalah huruf dasar yang shahih menunjukkan kepada cobaan dan ujian” (Maqayisul Lughah: 4/472).

Berbeda lagi jika di lihat dari perspektif al-Qur'an, yang mana dalam kitab suci al-Qur'an kata fitnah memiliki banyak makna, di antaranya, cobaan atau ujian, siksa, berpaling dari jalan kebenaran, penyesatan, dan lain-lain. 


Intinya, sering kali kita berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari segala macam fitnah.


Namun, dalam kitab Mausu'ah karya Imam ibn Abi Dunia menjelaskan:


قال ابن مسعود رضي الله عنه: لايقل احدكم اعوذ بالله من الفتن لكن ليقل اعوذ بالله من مضلات الفتن (انما اموالكم واولادكم فتنة)

Al Imam ibn Mas'ud r.a berkata: "Janganlah kamu berdo'a, 'Aku berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah.' Akan tetapi hendaklah kalian berdo'a, 'Aku berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah yang buruk." (Karena sesungguhnya anak-anak dan harta bendamu adalah fitnah).

Pernah baca kisah Abu Nawas? Mari sama-sama kita bernostalgia untuk mengenang kisah lucunya yang juga memilki hikmah.

Pernah suatu ketika, Abu Nawas pergi ke pasar, lantaran berkata kepada kawan-kawannya. "Aku sangat mencintai fitnah dan membenci yang hak." Bukan hanya itu, ia juga mengatakan, "Aku lebih kaya dari pada Allah."

Lantas kawan-kawannya juga penduduk pasar menuduh Abu Nawas telah salah jalan alias menyimpang.

Singkat cerita, Khalifah pada masa itu yakni Harun Ar-Rasyid mendengar perkaaan Abu Nawas itu. Dengan cepat sang Khalifah memerintahkan tetaranya untuk menjemput paksa Abu Nawas untuk di mintai pertanggung jawaban atas omongannya yang di anggap khalifah tidak senonoh.

Singkat cerita, sang Khalifah bertanya kepada Abu Nawas, "Mengapa kamu mengatakan bahawa kamu lebih kaya dari Allah?". Abu Nawas menjwab: "Aku mempunyai banyak anak sedangkan Allah tidak beranak tidak pula di peranakkan." Kemarahan Khalifah mulai mereda, sebelumnya sang Khalifah memang sudah sangat marah bahkan sudah menuduh Abu Nawas kafir.

"Lalu apa pembelaan mu, kalau kamu itu sangat mencintai fitnah dan membenci yang hak?" Tanya Khalifah. Dengan santai Abu Nawas menjawab: "Bukankah kematian itu hak? Bukankah Surga dan Neraka itu Hak?", Abu Nawas diam sesaat, lalu melanjutkan pembicaraannya, "Bukankah baginda (Khalifah) sangat membenci kematian juga Neraka yang hak itu? Seperti aku juga membencinya?"

Baginda hanya terdiam menandakan setuju dengan jawaban Abu Nawas. Tanpa di perintahkan Khalifah, Abu Nawas kembali berbicara, "aku membenci fitnah karena istri, harta juga anak-anakku adalah fitnah Bukankah baginda mencintai istri, harta juga anak-anak baginda?" Untuk kedua kalinya, Khalifah terdiam dengan jawaban Abu Nawas itu.

Setelah sidang singkat itu, Baginda (Khalifah) Harun Ar-asyid memberikan hadiah kepada Abu Nawas atas kebijaksanaannya.

Bukankah sudah jelas, kalau kita semua mncintai fitnah? Cinta dengan istri, cinta dengan harta, juga cinta dengan anak-anak kita.

Mengapa istri, harta juga anak-anak dikatakan sebagai fitnah? Karena ketiga hal itu, bisa mengantaran kita ke dalam nerakaNya Allah SWT. Sebaliknya pun dmeikian, ketiga hal tersebut dapat pula mengantarkan diri kita menuju surgaNya Allah SWT.

Berdo'alah kepada Allah untuk di jauhkan dari segala macam fitnah yang buruk, sepert fitnah kubur, fitnah dajjal, dan fitnah-fitnah jelek lainnya.

*Edisi lagi kena fitnah (ISU) di kampus

AL Faqih
Kopi pagi

Refrensi:

- Maqayisul Lughah
- Mausu'ah


EmoticonEmoticon