Buy Now

January 9, 2018

Esensi Dakwah dalam Al-Qu'an

Tak jarang, kita geram melihat kemungkaran yang dilakukan di depan mata kita. Baik itu melihat orang-orang yang sedang berjudi, mabok, meninggalkan salat, tidak berpuasa saat Ramadhan, dll.

Malah, ada beberapa orang 'oknum' yang ingin menyingkirkan kemungkaran tetapi dengan kekerasan fisik, bahkan juga melontarkan cacian yang menunjukkan se-olah-olah dirinya lebih mulia.

Pic Google

Coba kita lihat Firman Allah SWt, Q.S. Taha, ayat 42-44,

ٱذۡهَبۡ أَنتَ وَأَخُوكَ بِـَٔايَـٰتِى وَلَا تَنِيَا فِى ذِكۡرِى ٤٢

 ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُ ۥ طَغَىٰ ٤٣

فَقُولَا لَهُ ۥ قَوۡلاً۬ لَّيِّنً۬ا لَّعَلَّهُ ۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ ٤٤

Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; (42) 

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; (43) 

maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (44)

Di sini, Allah memerintahkan Nabiyullah Musa as berdakwah kepada Fir'aun dengan tutur kata yang lemah lembut.

So?

Kalo ada orang yang sedang mendakwahi kita, menasehati kita, tapi tidak dengan lemah lembut. Katakan kepadanya;

"Sob, gue ini belum semungkar Fir'aun. Dan elo juga belum semulia Nabi Musa as. APakah pantas, cacian dan makian itu tujukan kepada gue?"

Sekian tulisan singkat sore ini. 

Maaf, kalo di blog ini tidak menggunakan kata-kata yang akademis (Baku). Karena, emang sengaja dibuat santai dan terkesan anak sekolah.


EmoticonEmoticon