Buy Now

February 26, 2019

Serpihan Takwa

Sejak dulu kala, kita sudah terbiasa mendengar pembicaraan mengenai "takwa" yang senantiasa selalu dihimbau untuk diri kita. Di madrasah, musolla, majlis ta'lim, bahkan sekolah formal kita sendiri, tak jaran berpesan kepada kita agar senantiasa bertakwa kepada-Nya.

Bye Google

Mengenai definisi takwa itu sendiri, bukanlah sesuatu yang "asing" dalam pemahaman kita. Semua umat Islam gue kira hafal betul makna takwa yang kerap selalu disampaikan oleh khatib-khatib jum'at di atas mimbarnya, yakni:

Imtitsalu awamirillah wajtinabu nawahihi

Yaitu mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya

Dalam pandangan Al-Qur'an dan Hadis pun banyak yang menyinggung persoalan takwa. Dan definisi takwa di atas adalah definisi takwa secara bahasa. Dan dari sini, sebuah pertanyaan muncul, "memangnya bentuk takwa itu apa sih?"

Sekilas, cukup banyak di antara kita yang menyangka, takwa itu bentuknya adalah salat, puasa, zakat, haji, yang berupa daripada ibadah-ibadah. Apakah hanya sebatas itu?

Biar nasihat ini diterima banyak kalangan, gue mengutip pesan Syaikh Muhammad Syakir dalam kitabnya yang berjudul Washaya Al Aba lil Abna, yang isinya:

"Hai Anakku, takutlah kamu apabila kamu mengira bahwa takwa kepada Allah itu hanya salat, puasa dan ibadah lainnya. Sesungguhnya takwa kepada Allah itu mencakup dalam segala hal. Takutlah kamu dalam ibadah kepada Tuhanmu dan janganlah kamu lalai. Bertakwalah kepada Allah, jangan menyakiti seorang pun di antara teman-temanmu. Bertakwalah kepada Allah di negaramu, janganlah kamu mengkhianati dan mencari-cari musuh. Takwalah kamu kepada ALlah terhadap dirimu, jangan kamu abaikan kesehatanmu dan janganlah kamu berakhlak kecuali dengan akhlak yang mulia."

Yups, bisa dikatakan, aspek takwa itu tidak hanya menyinggung ibadah individual, tapi juga mencakup hal-hal yang berhubungan dengan sosial. Dari nasihat ini bisa kita singgung, bahwa takwa pada era milenial sekarang ini semakin banyak aspek takwa yang musti kita perhatikan.

Bagaimana kita memanfaatkan skill dan hobi kita agar tidak keluar dari "orbit" takwa. Bermusik, bernyanyi, ber-akting, bermedsos, dan sebagainya harus kita memperhatikan norma'norma yang telah di ajarkan oleh baginda Nabi saw. 

Berpuisi untuk menghina, bermusik untuk memprovokasi, bermedsos untuk menyebar fitnah dan lain2, telah banyak kita jumpai sekarang ini. Terlebih sekarang bercampur baur dengan bumbu-bumbu politik yang sangat sesitif.

Kalau kita punya banyak salah dan dosa hanya kepada Allah, taubtanya in sy Allah mudah. Allah maha pengampun, lagi maha penyayang. Di tambah lagi di dukung oleh hadis-hadis nabi mengenai suatu amalan-amalan (seperti dalam ibadah haji), yang Allah menjanjikan kepada kita, akan menghapuskan segala kesalahan dan dosa kita selama apa yang kita kerjakan di dunia, tapi bukan dosa yang berhubungan dengan orang lain.

Nah, seandainya, kita menyakiti orang lain, lalu kita bertaubat kepada Allah, seedangkan si orang yan pernah kita sakiti masih belum memaafkan kita, apakah ada jaminan Allah akan menerima taubat kita?

lalu bagaimana dengan kita menyakiti, memfitnah, menggunjing orang lain yang kita belum kenal betul orang tersebut. Di tambah lagi, orang yang kita sakiti, kita fitnah, kita gunjing adalah orang-orang "penting" sehingga amat sulit kita bertemu dengannya. 

Lalu bagaimana kita meminta maaf kepadanya? apakah ada jaminan kita memiliki kesempatan bisa bertemu dan meminta maaf secara langsung?

Kini, serpihan takwa tersebut seperti terseret ombak yang kecil. Perlahan namun pasti, serpihan itu seperti terus menghilang dari permukaan.


EmoticonEmoticon